Tampilkan postingan dengan label Lirih Penyair Murung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lirih Penyair Murung. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juni 2012

Sajak sebatang Lisong


Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka
Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.
Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.
Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.
…………………
Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.
Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :
bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.
Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.
Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.
………………
Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.
Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

W.S Rendra
19 Agustus 1977
ITB Bandung
Potret Pembangunan dalam Puisi

Sabtu, 16 Juni 2012

SATU MIMPI SATU BARISAN

di lembang ada kawan sofyan
jualan bakso kini karena dipecat perusahaan
karena mogok karena ingin perbaikan
karena upah ya karena upah

di ciroyom ada kawan sodiyah
si lakinya terbaring di amben kontrakan
buruh pabrik teh
terbaring pucet dihantam tipes
ya dihantam tipes
juga ada neni
kawan bariah
bekas buruh pabrik kaos kaki
kini jadi buruh di perusahaan lagi
dia dipecat ya dia dipecat
kesalahannya : karena menolak
diperlakukan sewenang-wenang

di cimahi ada kawan udin buruh sablon
kemarin kami datang dia bilang
umpama dironsen pasti nampak
isi dadaku ini pasti rusak
karena amoniak ya amoniak

di cigugur ada kawan siti
punya cerita harus lembur sampai pagi
pulang lunglai lemes ngantuk letih
membungkuk 24 jam
ya 24 jam

di majalaya ada kawan eman
buruh pabrik handuk dulu
kini luntang-lantung cari kerjaan
bini hamin tiga bulan
kesalahan : karena tak sudi
terus diperah seperti sapi

di mana-mana ada sofyan ada sodiyah ada bariyah
tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan
di mana-mana ada neni ada udin ada siti
di mana-mana ada eman
di bandung - solo - jakarta - tangerang

tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan
satu mimpi
satu barisan


Widjhi Thukul 
Bandung 21 Mei 1992
sumber

Senin, 11 Juni 2012

Belum ada Judul


aku sayang kamu karna hatimu yg hadirkan cinta bagi jiwa yg terlanjur hitam 
menggerakan hatiku untuk berubah menjadi sosok yang lebih baik di mata Sang Kuasa 
lewat suara iman dan kekasih sang penentram 
aku bersyukur dihias mata untuk meliat , untuk resapi karunia 
kukira keindahan paling sempurna adalah Bunga,
Nyata bukan itu yang kupuja...
Allah telah tiupkan karunia terindah tiada dua 
Dan takan mampu lebah kan merayunya 
Dan kini aku telah memiliki dia, 
Kamu...


-Aldilla Qurrata A'yun-


Buta


jangan salahkan malam
kitalah yang gugup meraba tanda alam

hening dan dingin yang merambat di kulit
bukan titik tolak dimana gincu harus dipertebal
mungkin sedikit catatan sejarah
dalam dokumen kehidupan
atau dahaga yang ingin dilunaskan

entah, aku tak pernah mengerti
kemelut apa yang berkobar dalam topimu

zaman kita sudah buta
tata nilai dijungkir balikkan

aroma tabu dilegalkan
justru sikap hati hati yang selalu tersaji
dalam meja diskusi
hal itu diperdebatkan
dicaci maki oleh kumbang kumbang

oh,permata permata kehidupan !
oh,penggenggam seribu kemuliaan !

mengertilah,
ini bukan permainan bongkar pasang...


-Muhammad Dihlyz-
Billy Kobra

Minggu, 06 Mei 2012

Makna Sebuah Titipan

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan… Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,

Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

-Willibrordus Surendra Broto Rendra-

Kamis, 29 Maret 2012

PERTAMENCRET

Rakyat bersuara
presiden tutup telinga
presiden bersuara rakyat tertawa
dia bilang tanpa rekayasa
kami bilang omong belaka
lantas kenapa dia lari bertamasya
dan kami mengacungkan tanda tanya
di depan gedung istana
akan nasib PERTAMINA



-Nur Irvan Affandi (Resek) -

Rabu, 28 Maret 2012

Bukan Aku

aku bukan permata penghias mahkota..
aku cuma serpihan kaca yang hina..
aku bukan pujangga yang bisa dipuja,
aku cuma penulis murahan yang terbiar lara..

karyaku, hanya inspirasi picisan..
lebih murah dari pisang goreng jalanan
jangankan 10 judul dalam 1 jam..
satu bait saja ku habiskan berbulan bulan..

ku tinggalkan isi hatiku, kutitipkan coretan ku..
di bilikmu seandainya kau mau dan perlu..
luahan kata yang penuh luka, susun cerita yang tak bermakna..
kadang tak sepasang mata pun ingin membaca..

inilah aku, inilah cerminku...
setiap bait yang kucurah, serumpun pilu yang ku luah..
adalah rasaku, adalah jiwaku, adalah fikiranku..
aku tak mampu lari dari semua itu, karena itu adalah warna diriku..

inilah aku, inilah cerminku..
aku tak memiliki kepiawaian, aku cuma ada keinginan
sepuluh jari kususun rapi, untuk ku pohon padamu Robbi
sekiranya kau tak sudi, biarlah aku pergi membawa diri..

ku labuhkan luka yang ada, ku leraikan derita di jiwa..
kutinggalkan kasih dan cinta, sebagai kenangan lama..
selamat tinggal, ku akhiri tulisan ini..
sebuah puisi picisan yang tak berarti…
terima kasih…

- Nasrul Wafi -